Doa Qunut Subuh Menurut Beberapa Madzhab

Perpedaan kalangan ulama madzhab sudah biasa. Hal yang terpenting, perbedaannya berdasarkan kajian dalil. Jadi, antar ulama madzhab, tidak bisa membid’ahkan sebuah masalah, dalam hal ini qunut, hanya karena berbeda pendapat.

Tentunya, perbedaan pendapat soal doa qunut subuh ada hal yang melatarbelakanginya. Salah satu yang melatarbelakangi adalah masalah beda pemahaman hadis dan cara qiyas menurut Ibnu Rusyd yang dilansir Nu.or.id.

Disini akan menjelaskan mengenai doa qunut subuh menurut beberapa madzhab. Tentunya, dengan memahami perpedaan dan kesamaan pendapat, tidak lagi mempersoalkan doa qunut subuh, baik yang menjalankannya atau tidak.

Menurut Madzhab Hanifah

Menurut madzhab Imam Abu Hanifah atau disebut Madzhab Hanafi, doa qunut hanya terjadi pada witir, seperti yang dilansir Nu.or.id.

Madzhab Imam Abu Hanifah berpendapat dengan mengacu pada surat ali-Imran ayat 128 soal terjadinya qunut nazilah. Yaitu, ketika pertempuran mendapat kegagalan sampai 70 orang gugur sebagai syuhada.

Rinciannya seperti ini soal qunut ketika ada musibah sesuai beberapa sumber:

  • Adanya doa qunut jika memang ada musibah atau bencana besar
  • Qunut dilakukan saat solat subuh
  • Dilakukan secara berjamaah bukan sendirian
  • Qunut hanya dilakukan pada solat witir
  • Dilakukan sebelum ruku’
  • Dibaca secara lirih

Menurut Madzhab Maliki

Imam Malik pun mengacu pada surat Ali-Imron ayat 128 persoalan doa qunut, apakah dijalankan pada waktu subuh atau tidak. Menurutnya, qunut nazilah yang pernah dipakai, sudah tidak lagi digunakan. Rasulullah mengganti doa-doanya menjadi doa kebaikan. Hal ini bisa dipakai untuk berkelanjutan.

Berikut rincian bagaimana persoalan doa qunut subuh menurut Imam Malik seperti dalam Nu.or.id:

  • Qunut dilakukan sebelum ruku pada rakaat kedua pada solat subuh
  • Dibaca secara sirr, pelan.
  • Qunut adalah golongan amalan mustahab, anjuran Nabi SAW namun tidak dilakukan sepanjang hidup Nabi SAW.

Menurut Madzhab Syafii

Kalangan madzhab syafi’i akan mengambil dalil berdasarkan yang diriwayatkan Anas Bin Malik (HR. Muslim). Bahwasanya, Rasulullah memang selalu membaca doa qunut pada waktu subuh (dalam hadis dituliskan salat fajar). Bahkan rutinan membaca doa qunut subuh sampai beliau wafat.

Rincian menjalankan qunut menurut madzhab syafi’i:

  • Doa qunut subuh dilakukan setelah ruku
  • Dibaca ketika salat sendirian atau berjamaah.
  • Membaca doa khusus qunut yang biasa dibaca atau boleh doa lain (Fathul Qorib)
  • Qunut dianggap sebagai sunnah ab’adl, jika lupa, disunahkan sujud syahwi.
  • Qunut boleh digunakan di selain solat subuh bila ada bencana besar

Menurut Madzhab Hambali

Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal menyikapi qunut berdasarkan peristiwa nazilah, yakni ketika itu Rasulullah tidak ikut hadir dalam peristiwa. Acuannya pada surat Ali-Imron ayat 128. Ketika sudah selesai peristiwa besarnya, qunut tidak digunakan lagi oleh Nabi SAW.

Namun, kasus qunut nazilah Nabi SAW menjadi dasar untuk qunut di waktu ada musibah besar. Sekarang, era pandemi, banyak orang yang menyarankan untuk qunut nazilah.

Rinciannya:

  • Qunut hanya digunakan ketika ada musibah besar
  • Qunut dilakukan setelah ruku’
  • Qunut hanya dilakukan pada solat witir

Mayoritas Ulama Soal Qunut

Sebagian besar ulama memang tidak memihak pada pendapat bahwa qunut dilakukan dalam solat subuh tanpa ada musibah besar. Jadi, qunut dilakukan untuk kebutuhan mendoakan atas musibah besar. Hanya sebagian kecil ulama, yakni di kalangan syafi’I yang menjadikan doa qunut di waktu solat subuh sebagai keseharian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *